Lima Acara Syukuran Berikut Tidak Lengkap Tanpa Ayam Goreng Utuh Jogja

  • Home
  • Artikel
  • Lima Acara Syukuran Berikut Tidak Lengkap Tanpa Ayam Goreng Utuh Jogja
Lima Acara Syukuran Berikut Tidak Lengkap Tanpa Ayam Goreng Utuh Jogja
Lima Acara Syukuran Berikut Tidak Lengkap Tanpa Ayam Goreng Utuh Jogja

Adat syukuran di daerah Jogja masih terlaksana sampai sekarang. Jenisnya pun bermacam-macam. Namun, acara syukuran apapun rasanya belum lengkap tanpa adanya  ayam goreng utuh Jogja.

Hal itu karena memiliki filosofi dan sejarah yang sudah melekat sejak zaman dahulu. Maka dari itu, termasuk sesuatu yang penting pada acara syukuran. Jika ingin mengetahuinya lebih lanjut, terus simak pembahasan di bawah ini.

Ayam Goreng Utuh Jogja Untuk Berbagai Acara Syukuran

Pada masyarakat Jawa, ayam goreng utuh dikenal sebagai ayam ingkung. Hal ini sudah ada sejak sebelum Islam masuk ke pulau Jawa dan sekitarnya. Pada awalnya namanya bukan ayam ingkung melainkan ayam tukung.

Biasanya, oleh masyarakat digunakan sebagai sesaji bersama tumpeng. Adanya ayam ingkung ini memiliki makna dan filosofi tersendiri. Ingkung diambil dari kata “jinakung” yang berarti mengayomi.

Selain itu, juga berasal dari kata “manekung” yang berarti memanjatkan doa. Sedangkan, posisinya yang terlihat tersungkur menunjukkan bahwa setiap manusia harus menunduk atau merendah kepada-Nya.

Kata “Nya” itu sendiri tidak spesifik kepada satu kepercayaan tertentu saja. Akan tetapi, bisa pada Tuhan, Dewa, leluhur, dan lainnya yang menjadi keyakinan masyarakat pada saat itu.

Sebab memiliki arti yang mulia itulah ayam ingkung tetap menjadi tradisi hingga kini. Khususnya pada masyarakat Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Yogyakarta. Ayamnya berasal dari ayam kampung agar selalu terjaga orisinalitasnya.

Selain rasanya yang lebih nikmat dibandingkan ayam jenis lainnya. Di masa sekarang tidak perlu susah-susah membuatnya sendiri, karena sudah banyak restoran yang menyajikannya. Khususnya ayam goreng utuh Jogja.

Jadi, jika akan mengadakan acara syukuran dan membutuhkan ayam ingkung, maka bisa langsung memesannya. Acara yang dimaksud bisa berupa syukuran untuk hal-hal berikut:

1.    Acara Wiwit

Acara ini merupakan sebuah upacara untuk memulai panen padi. Tujuannya sebagai penghormatan kepada sumber kehidupan, karena telah melimpahkan rezeki yang banyak.

Selain itu, juga sebagai bentuk syukur kepada Tuhan dan meminta perlindungan agar panen berjalan dengan lancar. Arti dari kata “Wiwit” adalah memulai. Untuk itulah pelaksanaannya dilakukan sebelum panen padi.

Hidangan yang disajikan pada upacara ini biasanya nasi tumpeng, telur ayam, sambel gepeng, dan sayur klothok. Tidak lupa pula dengan ayam goreng utuh Jogja dan aneka jajanan lainnya.

Sambel gepeng terbuat dari kedelai hitam dengan campuran cabai dan ikan teri. Sedangkan, sayur klothok merupakan campuran dari beberapa jenis sayur. Diantaranya kacang panjang, kulit mlinjo, kluwih, dan labu.

Selain makanan, juga tersedia beberapa benda seperti kinang, sisir, rokok, bunga wiwit, dan pisang raja. Bunga wiwit itu adalah mawar, melati, pandan wangi, wora-wari bang, kantil.

Semua makanan petani letakkan di pinggir sawah dan melantunkan doa keselamatan. Setelah doa, akan dilakukan pemotongan pada padi yang menunjukkan bahwa panen dapat dimulai.

Kemudian, untaian padi pertama tersebut petani bawa pulang dengan arti agar hasil panen bisa awet dalam memenuhi kebutuhan. Selain itu, para tetangga juga diundang hadir untuk makan bersama sebagai wujud sedekah.

2.    Ayam Goreng Utuh Jogja pada Upacara Nyadran

Upacara ini biasanya diadakan pada bulan Ruwah dalam kalender Jawa. Lokasinya pun tertentu seperti pemakaman, dan lain sebagainya. Tujuannya bisa karena membersihkan gangguan di tempat tersebut.

Bisa juga sebagai perwujudan syukur kepada Tuhan atas berlimpahnya hasil alam. Maka dari itu, dalam nyadran tersedia beberapa makanan dan jajanan hasil panen.

Diantaranya nasi tumpeng, ayam ingkung, dan jajanan yang terbuat dari biji-bijian hasil panen. Jika untuk mengusir gangguan seperti makhluk halus, maka makanan tersebut diletakkan di tempat yang ada roh-roh itu.

Namun, jika untuk perayaan hasil panen, maka beberapa orang akan berbondong-bondong mengadakannya. Kemudian, makan bersama dan saling berbagi.

Di daerah Jogja, upacara ini menjadi salah satu adat yang penting bagi masyarakat Gunung Kidul. Maka dari itu, telah menjadi tradisi tahunan agar anak dan cucunya nanti tetap melestarikan adat ini.

3.    Tanggap Warsa

Arti dari tanggap warsa adalah hari kelahiran. Namun, upacara ini bukan untuk merayakan kelahiran seseorang tetapi menyambut tahun baru. Tepatnya pada tahun baru hijriah yaitu tanggal 1 suro.

Selain makanan yang terhidang dalam acara syukuran ini, juga ada pementasan wayang kulit. Biasanya, mengisahkan tentang kelahiran sesuai dengan tema pada acara tersebut.

Kemungkinan pada masyarakat Jawa, tradisi ini mulai hilang, bahkan ada yang berpendapat bahwa malam 1 suro termasuk angker. Padahal tidak demikian dan hal itu hanya mitos belaka.

Namun, di daerah Jogja sendiri yang termasuk masih kental terhadap adat dan budayanya. Tentunya upacara tanggap warsa masih dilakukan. Apalagi dengan tujuan mulai seperti berdoa agar lebih baik dari tahun sebelumnya.

4.    Saparan

Upacara ini juga diadakan satu tahun sekali, tepatnya pada bulan Sapar kalender Jawa. Maka dari itu, acaranya bernama saparan. Nama lainnya juga dikenal upacara bekakak.

Saparan tidak ada hubungannya dengan kepercayaan atau keyakinan agama. Upacara ini terlaksana untuk mengenang salah satu abdi yang setia pada Sri Sultan Hamengku Buwono I.

Namanya yaitu Kyai Wirasuta dan Nyai Wirasuta. Berdasarkan cerita dari Mbah Gito yang merupakan penjaga di Pesanggrahan Gunung Gamping. Pada tahun 1755, Sri Sultan sedang membangun sebuah keraton di kotamadya.

Pada saat itu, Sri Sultan masih menjadi Pangeran Mangkubumi. Sambil mengawasi berjalannya pembangunan, beliau tinggal di Pesanggrahan. Lokasinya di Ambarketawang bersama kedua abdinya tersebut.

Singkat cerita, setelah pembangunan selesai, Sri Sultan hendak kembali ke keraton. Namun, kedua abdi kesayangannya memilih untuk tinggal. Akhirnya, terjadi sesuatu yang tidak terduga, tepatnya pada Jumat Kliwon bulan Safar.

Anehnya jasad kedua abdi tidak ditemukan. Masyarakat dari waktu ke waktu semakin khawatir akan adanya musibah seperti itu lagi. Akhirnya, Sri Sultan memerintahkan untuk mengadakan upacara dengan menyembelih bekakak.

Sesuai abdi tersebut, boneka bekakak dibuat seperti sepasang pengantin. Selain untuk mengenang, tujuannya juga agar masyarakat setempat terhindar dari musibah.

Pengantin bekakak terbuat dari tepung ketan dilengkapi dengan berbagai sesajen. Selain itu, di dalam boneka bekakak berisi gula merah yang diumpamakan darah.

5.    Muludan

Upacara ini terjadi pada bulan Maulud. Namun, bukan masyarakat yang mengadakannya melainkan pihak keraton. Meskipun demikian, masyarakat juga harus ikut memeriahkan.

Tujuannya agar sama-sama bisa mengambil berkah pada bulan tersebut. Selain itu, masyarakat juga membeli cambuk untuk binatang ternak supaya hasil panen melimpah. Ada pula yang beli pinang untuk nginang supaya awet muda.

Pesan Ayam Goreng Utuh Jogja di Ayam Goreng Jogja Bu Muryati

Jika hendak melakukan acara syukuran di atas dan membutuhkan ayam goreng utuh, maka tidak perlu khawatir. Sebab, bisa memesannya di Warung Bu Muryani, jadi tidak perlu repot memasak sendiri.

Kami menyediakan layanan pesan antar. Dengan begitu, tidak harus pergi ke menuju lokasi warung berada. Ayam goreng yang tersaji dijamin gurih dan nikmat.

Selain itu, bisa mendapatkannya dengan harga terjangkau. Jika ingin mengetahui informasi selengkapnya. Baik tentang harga ayam goreng utuh Jogja atau menu lainnya, maka bisa mengunjungi website kami. 

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar